Episode #3
Pakde kedatangan tamu Pak FARID, tokoh partai yang terbukti korupsi. Ia telah melakukan operasi plastik untuk mengubah wajahnya. Dan selama satu tahun telah berhasil menjadi buron yang tak terlacak. Ia kini meminta bantuan Pakde untuk bisa mencairkan rekeningnya di bank. Dan juga membantunya lari dari Indonesia.
Pakde kemudian juga kedatangan Pak KAMARUDDIN, pengusaha kayu Kalimantan yang terlibat pembalakan hutan. Ketika Pakde menyampaikan ramalan, Pak Kamaruddin pun tercengang. Karena anak kesayangannya akan mengidap penyakit jenis baru yang mematikan. Dan penangkalnya merupakan tanaman langka yang hanya tumbuh di dalam hutan yang selama ini digundulinya.
Nasehat Pakde untuk Pak Farid dan Pak Kamarrudin yang sama-sama koruptor pun berbeda. Pak Farid tak punya pilihan mengubah nasibnya, sementara Pak Kamaruddin masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Jenna kesal karena Ibu Ajeng telah mengambil kendali mutlak mengenai semua persiapan pernikahannya. Ia kemudian bersekongkol dengan Artha, dan menyiapkan rencana lain. Namun semuanya sia-sia saja. Sebuah kejadian membuat Jenna akhirnya harus mengambil keputusan drastis.
Sementara itu, Ibu Ajeng kesal tak mendapat dukungan dari anak sulungnya Dirham. Ia semakin kesal karena Dirham lebih berpihak pada istrinya. Pertanyaan istri Dirham mengenai masalalu dirinya, membuat Ibu Ajeng semakin tidak menyukai menantunya.
Tiara tak bisa menerima perlakuan Wahyu. Ia mengirimkan sebilah pisau dengan sebuah pesan yang mengancam. Wahyu bereaksi dengan mengirimkan sekuntum mawar sebagai balasan. Tiara mematahkan setiap tangkainya, dan mengirimkannya kembali kepada Wahyu.
Tiara pun mendatangi Eulis dan menceritakan perselingkuhannya dengan suaminya. Eulis memutuskan untuk meninggalkan Wahyu. Mengetahui perbuatan Tiara, Wahyu pun merancang pembalasannya.
Chitra terkejut ketika suaminya mendatanginya di persembunyiannya. Pada kesempoatan ini, dr Rustam melampiaskan semua kekesalannya dengan menghajar Chitra hingga babak belur. Pipit yang hendak membela ibunya juga menjadi korban.
Di rumah sakit, Sondang memberitahukan Biba peristiwa yang menimpa Chitra dan Pipit. Yang paling mengkhawatirkan mereka, dr Rustam seakan menghilang tak berjejak.
Pakde kembali menggali lubang di halaman belakang. Kali ini ia menyampaikan alasan penggaliannya kepada Ali. Kenyataan yang dibisikkan Pakde kepadanya membuat Ali menangis tersedu-sedu.